
“PRINSIP-PRINSIP BELAJAR DAN ASAS PEMBELAJARAN”


KATA PENGANTAR
Puji
syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,karena atas
izin-Nya lah saya dapat menyelesaikan Makalah Pendidikan dan Pembelajaran ini.
Terimakasih juga saya haturkan kepada kedua orang tua saya, rekan-rekan
sekalian,dan tentunya sumber-sumber web yang sangat membantu saya dan banyak
menginspirasi saya dalam penyusunan makalah ini. Karena tanpa mereka, saya
mungkin tidak dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Dengan
minimnya pengalaman yang saya miliki, saya berharap makalah dengan bahasan “Prinsip-prinsip
belajar dan Asas Pembelajaran” yang saya buat ini dapat juga bermanfaat bukan
hanya untuk diri saya sendiri namun bagi seluruh pelajar,mahasiswa,serta
seluruh kalangan yang membacanya.
Saya
menyadari bahwa didalam makalah yang saya buat ini masih terdapat banyak
kekurangan, oleh karena itu saya sangat berkenan untuk menerima segala kritik
dan saran yang dapat membangun sehingga makalah ini dapat menjadi lebih baik
lagi.
Tangerang,
21 Februari 2015
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A.
Latar Belakang 1
B.
Rumusan Masalah 1
C.
Tujuan Penulisan 1
BAB II PEMBAHASAN 2
A.
Pengertian Prinsip,Belajar dan Prinsip
Belajar 2
B.
Prinsip-prinsip Pembelajaran 3
C.
Pengertian Asas-asas Pembelajaran 8
D.
Macam-macam Asas Pembelajaran 9
BAB III KESIMPULAN 13
DAFTAR PUSTAKA
ii
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Belajar adalah suatu proses perubahan perilaku
yang muncul karena pengalaman.Belajar bukan hanya mengingat akan tetapi lebih
luas dari pada itu, yakni mengalami, hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil
latihan melainkan perubahan kelakuan, kegiatan belajar dapat dihayati (dialami
) oleh orang yang sedang belajar dan juga dapat diamati oleh orang lain.
Pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan
untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang
dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya
proses belajar siswa.
Untuk menciptakan dan menghasilkan kegiatan
belajar dan pembelajaran yang berprestatif dan menyenangkan, perlu diketahui
berbagai landasan yakni prinsip-prinsip maupun teori belajar.
Proses belajar mengajar memang merupakan bagian terpenting
dalam mengimplementasikan kurikulum, termasuk memahami prinsip-prinsip
pembelajaran itu sendiri. Adapun untuk bisa mengetahui efektivitas dan juga
efisiensi suatu pembelajaran bisa kita lihat melalui kegiatan pembelajaran ini.
Oleh karena itu, dalam melakukan pembelajaran sudah sepatutnya seorang pengejar
mengetahui bagaimana cara untuk membuat kegiatan belajar bisa berjalan dengan
baik serta bisa mencapai tujuan sesuai dengan yang diinginkan.
Prinsip-prinsip pembelajaran adalah bagian terpenting yang
wajib diketahui para pengajar sehingga mereka bisa memahami lebih dalam prinsip
tersebut dan seorang pengajar bisa membuat acuan yang tepat dalam
pembelajarannya. Dengan begitu pembelajaran yang dilakukan akan jauh lebih
efektif serta bisa mencapai target tujuan.
B. Rumusan Masalah
1.
Apakah
definisi prinsip,belajar dan prinsip belajar?
2.
Apa
saja prinsip-prinsip dalam pembelajaran?
3.
Bagaimana Pengertian Asas-asas Pembelajaran?
4.
Apa Saja Macam-macam Asas Pembelajaran?
C.
Tujuan
Penulisan
1.
Memahami
pengertian dari prinsip,belajar,dan prinsip belajar
2.
Mengetahui
prinsip-prinsip dalam pembelajaran
3.
Memahami
pengertian asas-asas pembelajaran
4.
Mengetahui
macam-macam asas pembelajaran
![]() |
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Prinsip,Belajar dan Prinsip Belajar
Prinsip menurut beberapa pendapat yaitu Sesuatu yang dipegang sebagai panutan yang utama
(Badudu&Zein, 2001:1089) ; Sesuatu
yang menjadi dasar dari pokok berpikir, berpijak dsb (Syah Djanilus, 1993) ; Sesuatu kebenaran yang kebenarannya sudah
terbukti dengan sendirinya (Dardiri, 1996).
Sedangkan
pengertian belajar menurut beberapa ahli adalah:
(Walra, rochmat, 1999:24) : Belajar ialah Suatu aktifitas atau
pengalaman yang menghasilkan perubahan pengetahuan, perilaku dan pribadi yang
bersifat permanen.
Moh. Surya (1997) : “belajar diartikan sebagai suatu proses
yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara
keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi
dengan lingkungannya”.
Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang
dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan,
sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”.
Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan
perilaku yang muncul karena pengalaman”.
Wingkel, 1987 : “belajar adalah suatu aktifitas mental & psikis
dalam berinteraksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan perilaku pada
diri sendiri.”Belajar adalah suatu proses/usaha sadar yang dilakukan
olehindividu untuk menghasilkan perubahan tingkah laku baik dalam aspek
kognitif (pengetahuan), afektif (sikap dan nilai) maupun psikomotor
(keterampilan) sebagai hasil interaksinya dengan lingkungan untuk mencapai
tujuan tertentu.
Jadi dapat
disimpulkan bahwa pengertian prinsip belajar adalah
·
Menurut Gestalt : suatu transfer belajar antara pendidik dan
peserta didik sehingga mengalami perkembangan dari proses interaksi belajar
mengajar yang dilakukan secara terus menerus dan diharapkan peserta didik akan
mampu menghadapi permasalahan dengan sendirinya melalui teori-teori dan
pengalaman-pengalaman yang sudah diterimanya.
·
Prinsip Belajar
Menurut Robert H Davies : Suatu komunikasi terbuka antara pendidik dengan
peserta didik sehingga siswa termotivasi belajar yang bermanfaat bagi dirinya
melalui contoh-contoh dan kegiatan praktek yang diberikan pendidik lewat metode
yang menyenangkan siswa.
Prinsip Belajar
Menurut Robert H Davies : Suatu komunikasi terbuka antara pendidik dengan
peserta didik sehingga siswa termotivasi belajar yang bermanfaat bagi dirinya
melalui contoh-contoh dan kegiatan praktek yang diberikan pendidik lewat metode
yang menyenangkan siswa.
Berdasarkan Pendapat para Ahli, disimpulkan bahwa Prinsip Belajar adalah
landasan berpikir, landasan berpijak, dan sumber motivasi agar Proses Belajar dan Pembelajaran dapat
berjalan dengan baik antara pendidik dengan peserta didik
B.
Prinsip-prinsip
Pembelajaran
Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang
dikemukakan oleh para ahli yang satu dengan yang lain memiliki persamaan dan
perbedaan. Dari berbagai prinsip belajar tersebut terdapat beberapa prinsip
yang relatif berlaku umum yang dapat kita pakai sebagai dasar dalam upaya
pembelajaran, baik bagi siswa yang perlu meningkatkan upaya belajarnya maupun
bagi guru dalam apaya meningkatkan mengajarnya.
·
Prinsip-prinsip belajar yang
dikemukakan oleh Rothwal A.B. (1961) adalah :
1)
Prinsip Kesiapan (Readinees)
Proses belajar dipengaruhi
kesiapan siswa. Yang dimaksud dengan kesiapan siswa ialah kondisi yang
memungkinkan ia dapat belajar.
2)
Prinsip Motivasi
(Motivation)
Tujuan dalam belajar
diperlukan untuk suatu proses yang terarah. Motivasi adalah suatu kondisi dari
pelajar untuk memprakarsai kegiatan, mengatur arah kegiatan itu dan memelihara
kesungguhan.
3)
Prinsip Persepsi
Seseorang cenderung untuk
percaya sesuai dengan bagaiman ia memahami situasi. Persepsi adalah
interpertasi tentang situasi yang hidup. Setiap individu melihat dunia dengan
caranya sendiri yang berbeda dari yang lain. Persepsi ini mempengaruhi perilaku
individu.
4)
Prinsip Tujuan
Tujuan harus tergambar jelas
dalam pikiran dan diterima oleh para pelajar pada saat proses terjadi. Tujuan
ialah sasaran khusus yang hendak dicapai oleh seseorang.
5)
Prinsip Perbedaan Individual
Proses pengajaran semestinya
memperhatikan perbedaan individual dalamkelas dapat memberi kemudahan
pencapaian tujuan belajar setinggi-tingginya. Pengajaran yang hanya
memperhatikan satu tingkat sasaran akan gagalmemenuhi kebutuhan seluruh siswa.
6)
Prinsip Transfer dan Retensi
Belajar dianggap bermanfaat
bila seseorang dapat menyimpan dan menerapkan hasil belajar dalam situasi baru.
Apapun yang dipelajari dalam suatu situasi pada akhirnya akan digunakan dalam
situasi yang lain.Proses tersebut dikenal sebagai proses transfer. Kemampuan
sesesorang untuk menggunakan lagi hasil belajar disebut retensi.
7)
Prinsip Belajar Kognitif
Belajar kognitif melibatkan proses pengenalan dan
penemuan. Belajar kognitif mencakup asosiasi antar unsur, pembentukan
konsep, penemuan masalah dan keterampilan memecahkan masalah
yang selanjutnya membentuk perilaku baru, berpikir, bernalar, menilai
dan berimajinasi.
8)
rinsip Belajar Afektif
Proses belajar afektif
seseorang menemukan bagaimana ia menghubungkan dirinya dengan pengalaman
baru. Belajar afektif mencakup nilai emosi,dorongan, minat dan sikap.
9)
Prinsip Belajar Evaluasi
Jenis cakupan validitas
evaluasi dapat mempengaruhi proses belajar saatini dan selanjutnya pelaksanaan
latihan evaluasi memungkinkan bagiindividu untuk menguji kemajuan dalam
pencapaian tujuan.
10) Prinsip Belajar Psikomotor
Proses belajar psikomotor individu menentukan
bagaimana ia mampu mengendalikan aktivitas ragawinya. Belajar psikomotor
mengandung aspekmental dan fisik.
Prinsip – Prinsip
Belajar Menurut Rochman Nata Wijaya dkk yaitu :
1)
Prinsip efek kepuasan ( law
of effect )
Jika sebuah respon
menghasilkan efek jembatan yang memuaskan, maka hubungan Stimulus-Respon akan
semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respon,
maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus-Respon.
2)
Prinsip pengulangan ( law of
exercise )
Bahwa hubungan antara
stimulus dengan respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan
akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak pernah dilatih.
3)
Prinsip kesiapan ( law of
readiness )
Bahwa kesiapan mengacu pada
asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pendayagunaan suatu pengantar
(conduction unit) dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong
organisme untuk berbuat atu tidak berbuat sesuatu.
4)
Prinsip kesan pertama ( law
of primacy )
Prinsip yang harus dipunyai
pendidik untuk menarik perhatian peserta didik.
5)
Prinsip makna yang dalam (
law of intensity )
Bahwa makna yang dalam akan
menunjang dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu
pembelajaran maka akan semakin efektif sesuatu yang dipelajari.
6)
Prinsip bahan baru ( law of
recentcy )
Bahwa dalam suatu
pembelajaran diperlukan bahan baru untuk menambah wawasan atau pengalaman suatu
peserta didik.
7)
Prinsip gabungan ( perluasan
dari prinsip efek kepuasan dan prinsip pengulangan )
Bahwa hubungan antara Stimulus-Respon akan
semakin kuat dan bertambah erat jika sering dilatih dan akan semakin lemah dan
berkurang jika jarang atau tidak pernah dilatih.
Secara Umum, Prinsip-prinsip
belajar berkaitan dengan :
1.
Perhatian Dan Motivasi
Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam
kegiatan belajar. Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap
bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar (Gage n Berliner,
1984: 335 ). Perhatian terhadap belajar akan timbul pada siswa apabila bahan
pelajaran sesuai dengan kebutuhannya.
Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai
sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih Ianjut atau diperlukan
dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya.
Apabila perhatian alami ini tidak ada maka siswa perlu dibangkitkan
perhatiannya.
Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan
yang sangat penting dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang
menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibandingkan
dengan mesin dan kemudi pada mobil (gage dan Berliner, 1984 : 372).
Demikian menurut H.L. Petri (Petri, Herbet L,
1986: 3). Motivasi dapat merupakan tujuan dan alat dalam pembelajaran. Sebagai
tujuan, motivasi merupakan salah satu tujuan dalam mengajar. Guru berharap
bahwa siswa tertarik dalam kegiatan intelektual dan estetik sampai kegiatan
belajar berakhir. Sebagai alat, motivasi merupakan salah satu faktor seperti
halnya intelegensi dan hasil belajar sebelumnya yang dapat menentukan
keberhasilan belajar siswa dalam bidang pengetahuan, nilai-nilai, dan
keterampilan.
Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minat.
Siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung
tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk mempelajari
bidang studi tersebut. Motivasi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianggap
penting dalan, kehidupannya. Perubahan nilai-nilai yang dianut akan mengubah
tingkah laku manusia dan motivasinya. Karenanya, bahan-bahan pelajaran yang
disajikan hendaknya disesuaikan dengan minat siswa dan tridak bertentangan
dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Sikap siswa, seperti haInya motif menimbulkan dan
mengarahkan aktivitasnya. Siswa yang menyukai matematika akan merasa senang
belajar matematika dan terdorong untulk belajar lebih giat, demikian pula
sebaliknya. Karenanya adalah kewajiban bagi guru untuk bisa menanamkan sikap
positif pada diri siswa terhadap mata pelajaran yang menjadi tanggung
jawabnya.
Insentif, suatu hadiah yang diharapkan diperoleh
sudah melakukan kegiatan, dapat menimbulkan motif. Hal ini merupakan dasar
teori belajar B.F. Skinner dengan operant conditioning-nya’ (Hal ini dibkarakan
lebih lanjut dalam prinsip balikan dan penguatan).
Motivasi dapat bersifat internal, artinya
datang dari dirinya sendiri, dapat juga bersifat eksternal yakni
datang dari orang lain, dari guru, orang tua, teman dan sebagainya.
Motivasi juga dibedakan atas motif
intrinsik dan motif ekstrinsik. Motif intrinsik adalah tenaga pendorong
yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Sebagai contoh, seorang siswa yang
dengan sungguh-sungguh mempelajari mata pelajaran di sekolah karena ingin
memiliki pengetahuan yang dipelajarinya. Sedangkan motif ekstrinsik adalah tenaga
pendorong yang ada di luar perbuatan yang dilakukannya tetapi menjadi
penyertaanya. Sebagai contoh, siswa belajar sungguh-sungguh bukan disebabkan
ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya tetapi didorong oleh keinginan
naik kelas atau mendapat ijazah. Naik kelas dan mendapat ijazah adalah penyerta
dari keberhasilan belajar.
Perhatian erat sekali kaitannya dengan
motivasi bahkan tidak dapat dipisahkan. Perhatian ialah pemusatan energi psikis
(fikiran dan perasaan) terhadap suatu objek. Makin terpusat perhatian pada
pelajaran, proses belajar makin baik dan hasilnya akan makin haik pula. Oleh
karena itu guru harus selalu berusaha supaya perhatian siswa terpusat pada
pelajaran. Memunculkan perhatian seseorang pada suatu objek dapat diakibatkan
oleh dua hal.
Pertama, orang itu merasa bahwa objek tersebut mempunyai kaitan dengan dirinya
umpamanya dengan kebutuhan, cita cita, pengalaman, bakat, minat.
Kedua, Objek itu sendiri dipandang memiliki sesuatu yang lain dari yang lain,
atau yang lain dari yang biasa, lain dari yang pada umumnya muncul.
2. Keaktifan
Belajar
Kecendrungan psikologi dewasa ini menganggap
bahwa anak adalah makhluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat
sesuatu, mempunyai kemampuan dan aspirasi sendiri. Belajar tidak bisa
dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain.
Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendri.
Mon Dewey misalnya mengemukakan, bahwa belajar
adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirmya sendiri. maka
inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru sekedar pembimbing dan pengarah
(John Dewy 1916. dalam Dak ks, 1937:3 1).
Dalam setiap proses belajar, siswa selalu
menampakkan keaktifan. Keaktifan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari
kegiatan fisik yang mudah kita amati sampai kegiatan psikis yang susah diamati.
Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih
keterampilan-keterampilan, dan sebagainya. Contoh kegiatan psikis misaInya
menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang
dihadapi, membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan basil
percobaan, dan kegiatan psikis yang lain.
Seperti yang telah dibahas di depan bahwa belajar
iu sendiri adalah akivitas, yaitu aktivitas mental dan emosional. Bila ada siswayang duduk di kelas pada saat pelajaran
berlangsung, akan tetapi mental emosionalnya tidak terlibat akif
didalam situasi pembelajaran itu, Pada hakikamya siswa tersebut tidak ikut
belajar.
Oleh karena itu guru jangan sekali-kali
membiarkan ada siswa yang tidak ikut aktif belajar. Lebih jauh dari sekedar
mengaktifkan siswa belajar, guru harus berusaha meningkatkan kadar aktifitas
belajar tersebut.
Kegiatan mendengarkan penjelasan guru, sudah
menunjukkan adanya aktivitas belajar. Akan tetapi barangkali kadarnya perlu
ditingkinkan dengan metode mengajar lain.
Sekali untuk memantapkan pemahaman anda tentang
upaya meningkatkan kadar aktivitas belajar siswa, coba anda tetapkan salah satu
pokok bahasan dari salah satu mata pelajaran yang biasa diajarkan. Silahkan
anda rancang kegiatan-kegiatan belajar yang bagaimana yang harus siswa
anda lakukan, supaya kadar aktivitas belajair mereka relatif tinggi.
Bila sudah selesai anda kerjakan, silahkan
diskusikan dengan guru lain disekolah anda atau guru sesama peserta program.
3. Keterlibatan Langsung Dalam Belajar
Di muka telah dibkarakan bahwa belajar haruslah
dilakukan sendiri oleh siswa yang, belajar adalah mengalami, belajar tidak bisa
dilimpahkan kepada orang lain. Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajar
yang dituangkan dalam kerueut pengalamannya mengemukakan bahwa belajar yang
paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Dalam belajar melalui
pengalaman langsung siswa tidak sekadar mengamati secara langsung tetapi ia
harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab
tehadap hasilnya. Sebagai contoh seseorang yang belajar membuat tempe, yang
paling baik apabila ia terlihat secara langsng dalam perbuatan (direct
performance), bukan sekadar melihat bagaimana orang menikmati tempe
(demonstrating), apalagi sekadar mendengar orang bercerita bagaimana cara
pembuatan tempe (telling).
Pentingnya ketelibatan langsung dalam belajar
dikemukakan oleh John Dewey dengan “leaming by doing”-nya. Belajar sebaiknya
dialami melalui perbuatan langsung. Belajar harus dilakukan oleh siswa secara
aktif, baik individual maupun kelompok, dengan cara memecahkan masalah (prolem
solving). Guru bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator.
Keterlibatan siswa di dalam belajar jangan
diartikan keterlibatan fisik semata, namun lebih dari itu terutama adalah
keterlibatan mental emosional, keterlibatan dengan kegiatan kognitif dalam
pencapaian dan perolehan pengetahuan, dalam penghayatan dan intemalisasi
nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilat, dan juga pada saat mengadakan
latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan.
4. Pengulangan Belajar
Prinsip belajar yang menekankan perlunya
pengulangan yang dikemukakan oleh teori Psikologi Dava. Menurut teori ini
belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya
mengamat, menanggap, mengingat. mengkhayal, merasakan. berpikir. dan
sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka dasya-daya tersebut akan
berkembang. Seperti hainya pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam, maka
daya-daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan-pengulangan akan menjadi
sempuma.
Banyak tingkah laku manusia yang terjadi karena
kondisi, misalnya siswa berbaris masuk ke kelas karena mendengar bunyi lonceng,
kendaraan berhenti ketika lampu
Ialu lintas berwarna merah. Menurut teori ini perilaku individu dapat
dikondisikan, dan belajar merupakan upaya untuk mengkondisikan suatu perilaku
atau respons terhadap sesuatu. Mengajar adalah membentuk kebiasaan,
mengulang-ulang sesuatu perbuatan sehingga menjadi suatu kebiasaan dan
pembiasaan tidak perlu selalu oleh stimulus yang sesungguhnya, tetapi dapat
juga oleh stimulus penyerta.
5. Sifat
Merangsang Dan Menantang Dari Materi Yang Dipelaiari
Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin
mengemukakan bahwa dalam, situasi belajar berada dalam suatu medan atau
lapangan psikologis. Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu tujuan yang
ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yang mempelajari bahan belajar,
maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan mempelajari
bahasa belajar tersebut. Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan
belajar telah tercapai, maka ia akan masuk dalam medan baru dan tujuan baru,
demikian seterusnya. Agar pada anak timbul motif yang kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik maka
bahan belajar haruslah menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar
haruslah menantang.tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa
bergairah untuk mengatasinya. Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung
masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya.
Pelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk menerimakan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan
generalisasi akan menyebabkan siswa berusaha mencari dan menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip,
dan generalisasi tersebut.
6. Pemberian Balikan Atau Umpan Balik Dan
Penguatan Belajar
Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan
penguatan terutama ditekankan oleh teori belajar operant Conditioning dari B.F.
Skinner. Kalau pada teori conditioning yang diberi kondisin adalah stimulusnya,
maka pada operant conditioning yang diperkuat adalah responsnya. Kunci dari
teori belajar im adalah law of effect – nya Thomdike. Siswa akan belajar lebih
bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang haik. Hasil, apalagi
hasil yang baik, akan merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengarub baik
bagi usaha belajar selanjutnya. Namum dorongan belajar itu menurut B.E Skinner
tidak saja oleh penguatan yang menyenangkan tetapi juga ada yang tidak
menyenangkan. Atau dengan kata lain penguatan positif maupun negatif dapat
memperkuat belajar (gage dan Berliner, 1984: 272).
Siswa belajar sungguh-sungguh dan mendapatkan nilai yang baik dalam
ulangan. Nilai yamg baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi.
Nilai yang baik dapat merupakan operant conditioning atau penguatan positif.
Sebaliknya anak yang mendapatkan nilai yang jelek pada waktu ulangan akan
merasa takut tidak naik kelas, karena takut tidak naik kelas ia terdorong tuk
belajar lebih giat. Di sini nilai buruk dan dan rasa takut lidak naik kelas
juga bisa mendorong anak untuk belajar lebih giat. Inilah yang disebut
penguatan negatif. Di sini siswa mencoba menghindar dari peristiwa yang tidak
menyenangkan, maka penguatanatan negatif juga disebut escape
conditioning, Format sajian berupa tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode
penemuan, dan sebagainya merupakan cara belajar-mengajar yang memungkinkan
terjadinya balikan dan penguatan. Balikan yang segera diperoleh siswa setelah
belajar melalui penggunaan metode-metode ini akan membuat siswa terdorong untuk
belajar lebih giat dan bersemangat.
C.
Pengertian Asas-asas Pembelajaran
Pengertian Asas-asas Pembelajaran
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Asas adalah hukum
dasar; suatu kebenaran yang menjadi pokok dasar. Sedangkan prinsip
adalah asas atau dasar yang dijadikan pokok berpikir, bertindak, dan
sebagainya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa asas dan prinsip sebenarnya
adalah sama, karena menjadi pokok dasar baik bertindak maupun berpikir.
Pembelajaran (instruction) adalah suat usaha untuk
membuat peserta didik belajar atau suat kegiatan untuk membelajarkan peserta
didik. Dengan kata lain, pembelajaran merupakan upaya menciptakan kondisi agar
terjadi kegiatan belajar. Dalam pengertian lain, pembelajaran adalah
usaha-usaha yang terencana dalam manipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi
proses belajar dalam diri peserta didik. Pembelajaran disebut juga kegiatan
pembelajaran (instruksional) adalah usaha mengelola lingkungan dengan sengaja
agar seseorang membentuk diri secara positif dalam kondisi tertentu. Dengan demikian
inti dari pembelajaran adalah segala upaya yang dilakukan oleh pendidik agar
terjadi proses belajar pada peserta didik. Kegiatan pembelajaran tidak akan
berarti jika tidak menghasilkan kegiatan belajar pada para peserta didiknya.
Dalam UU No.
20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 1 Ayat 20, pembelajaran adalah proses
interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar.
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan
pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui kontraksi
para peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan dan sumber belajar
lainnya dalam rangka mencapai kompetisi dasar.
Kegiatan belajar hanya bisa berhasil jika peserta
didik belajar secara aktif mengalami sendiri proses belajar. Kegiatan
pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi peserta didik jika dilakukan dalam
lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi peserta didik.
Jadi,
asas-asas pembelajaran adalah prinsip-prinsip umum yang harus dikuasai oleh
guru dalam melakukan kegiatan belajar mengajar atau dengan kata lain asas-asas
pembelajaran adalah suatu yang dijadikan dasar berpikir dan bertindak untuk
menciptakan proses belajar.
D.
Macam-macam Asas Pembelajaran
·
Peragaan
Peragaan ialah suatu cara yang dilakukan oleh guru dengan maksud memberikan
kejelasan secara realita terhadap pesan yang disampaikan sehingga dapat
dimengerti dan dipahami oleh para siswa. Dengan peragaan diharapkan proses
pengajaran terhindar dari verbalisme, yaitu siswa hanya tahu kata-kata
yang diucapkan oleh guru tetapi tidak mengerti maksudnya. Untuk itu
sangat diperlukan peragaan dalam pengajaran terutama terhadap siswa pada
tingkat dasar.
Peragaan meliputi semua pekerjaan indera yang bertujuan untuk mencapai pengertian
tentang sesuatu hal secara tepat. Agar peragaan berkesan secara nyata, anak
tidak hanya mengamati benda atau model yang diperagakan terbatas pada luarnya
saja, tetapi harus mencapai berbagai segi,dianalisis, disusun, dan
dibanding-bandingkan untuk memperoleh gambaran yang jelas dan lengkap.
Penerapan asas-asas peragaan dalam kegiatan belajar mengajar, menyangkut
beberapa aspek:
a. Penggunaan bermacam-macam alat
peraga.
b. meragakan pelajaran dengan perbuatan,
percobaan-percobaan.
c. Membuat poster-poster, ruang eksposisi dan
lain sebagainya.
d. Menyelenggarakan karya wisata.
Dasar psikologi penerapan asas peragaan
tersebut yakni, suatu hal akan lebih berkesan dalam ingatan siswa bila melalui
pengalaman dan pengamatan langsung anak itu sendiri. Ada dua macam peragaan:
Peragaan langsung, dengan menggunakan benda aslinya atau mengadakan
percobaan-percobaan yang bisa diamati oleh siswa. Peragaan tidak langsung,
dengan menunjukkan benda tiruan atau suat model. Contoh: gambar, boneka,
film, foto dan sebagainya.
2.
Minat dan Perhatian
Minat dan Perhatian
Perhatian mempunyai peranan penting
dalam kegiatan belajar, tanpa adanya perhatian
tidak mungkin akan terjadi belajar, perhatian akan
timbul dari siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhanya.
Minat dan
perhatian merupakan gejala jiwa yang selalu berkaitan, seorang siswa yang
berminat dalam belajar akan timbul perhatiannya terhadap pelajaran tersebut.
Akan tetapi terkadang perhatian siswa akan hilang jika tidak ada minat dalam
pelajaran yang diajarkan, oleh karena itu diperlukan kecakapan seorang guru
untuk membangkitkan minat dan perhatian peserta didik.
Untuk
membangkitkan perhatian dan minat yang disengaja guru harus:
a.
Dapat menunjukkan pentingnya bahan pelajaran yang disajikan bagi siswa.
b.
Berusaha menghubungkan apa yang diketahui siswa dengan bahan yang
disajikan.
c.
Merangsang siswa agar melakukan kompetisi belajar yang sehat, berusaha menghindarkan
hukuman.
d.
Mengajar dengan persiapan yang baik, menggunakan meia,menghindari
hal-hal yang tidak perlu, mengadakan selingan sehat.
3. Motivasi
Motivasi bersal dari bahasa latin
“movere”, yang berarti menggerakkan. Berdasarkan pengertian ini, makna motivasi
menjadi berkembang. Wlodkowski (1985) menjelaskan motivasi sebagai suatu
kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi
arah serta ketahanan pada tingkah laku tersebut. Sedangkan Imron (1996)
menjelaskan, bahwa motivasi berasal dari bahasa inggris motivation, yang
berarti dorongan pengalasan dan motivasi. Motivasi adalah dorongan bagi
seseorang untuk kekuatan melakukan sesuatu dengan penuh semangat, yang berasal
dari diri sendiri disebut motivasi instrinsik, kemudian dorongan dari luar
disebut motivasi ekstrinsik.
Motivasi instrinsik, misalkan saja siswa belajar
bersungguh-sungguh untuk menguasai pelajaran yang diajarkan. Kemudian motivasi
ekstrinsik dapat dilakukan oleh guru, sehubungan dengan itu S. Nasution membedakan macam-macam
motivasi sebagai berikut:
1) Memberi angka, angka yang
baik bagi mereka merupakan motivasi dalam kegiatan belajar.
2) Hadiah, dapat membangkitkan
motivasi dalam hal pekerjaan atau belajar, namun hadiah dapat merusak jiwa
manakala membelokkan pikiran dan jiwa dari tujuan yang sebenarnya.
3) Persaingan, dalam
waktu tertentu dapat meningkatkan motivasi , dapat mempertinggi hasil belajar
anak bilamana dilakukan dengan cara positif.
4) Tugas yang menantang,
memberi tugas yang menantang mendorong siswa untuk belajar secara serius.
5) Pujian, merupakan motivasi
yang baik bila diberikan dengan benar dan beralasan.
6) Teguran dan kecaman,
digunakan untuk memperbaiki kesalahan anak, hendaknya diberikakn secara
bijaksana dan dapat menjadikan anak menyadari kesalahnya.
7) Celaan, secara psikologis
dapat merusak jiwa anak, anntara lainmenjadi frustrasi dalam belajarnya dan
menimbulkan dendam terhadap guru.
8) Hukuman, sama halnya dengan
celaan, juga dapat menimbulkan kekecewaan dalam diri anak dan perasaan
dendam.
4. Apersepsi
Apersepsi berasal dari kata apperception
(Inggris), yang berarti menafsirkan buah pikiran, menyatukan dan mengasimilasikan
suat pengamatan dengan pengalaman yang telah dimiliki dan dengan demikian
memahami dan menafsirkanya.
Ahli psikologi mendenifisikan apersepsi adalah
bersatunya memori yang lama dengan yang baru pada saat tertentu. Untuk
menetapkan asas-asas apersepsi dapat diikuti langkah-langkah sebagai berikut:
·
Sebelum pelajaran dimulai guru mencari titik tolak untuk menghubungkan
pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa dengan cara mengajukan pertanyaan.
·
Dalam menjelaskan pelajaran dapat digunakan teknik induktif, yaitu dari
contoh menuju hukum, dari yang khusus menuju yang bersifat umum, dari konkret
ke abstrak.
5. Korelasi dan Konsentrasi
Yang dimaksud dengan korelasi disini adalah hubungan
antara mata pelajaran yang satu dengan yang lainnya yang berfungsi untuk
menguatkan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa, juga dapat menimbulkan minat
dan perhatian siswa. Hendaknya guru juga menghubungkan pelajaran dengan realita
sehari-hari.
Ada tiga tahapan dalam pelaksanaanya, yakni:
·
Tahap inisiasi, guru dapat menarik perhatian siswa dengan alat peraga,
supaya kelas dapat memiliki topik, siswa dibentuk kelompok dan tiap kelompok
diberi permasalahanya masing-masing.
·
Tahap pengembangan, pada tahap hal ini kelompok-kelompok
diterjunkan langsung kelapangan untuk mencari sumber data untuk materi diskusi,
laporan ditulis lengkap, para siswa diharapkan dapat berpartisipasi secara
aktif dan guru bertindak sebagai pedamping.
·
Tahap kulminasi, sebagai tahap akhir, setelah semua kelompok dapat
menyelesaikan laporan yang mereka buat maka diadakan diskusi kelas atau diskusi
panel, dan diharapkan para siswa dapat berperan aktif.
6. Kooperatif
Model
pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis
kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang dipimpin oleh guru atau diarahkan
oleh guru. Kooperatif menggambarkan makna yang lebih luas, yaitu menggambarkan
keseluruhan proses sosial dalam belajar dan mencangkup pula pengertian
kolaborasi.
Adapun
pengelompokan kelompok itu biasanya didasarkan pada adanya alat pelajaran yang
tidak mencukupi jumlahnya,kemampuan belajar siswa,memperbesar partisipasi
siswa,pembagian tugas dan kerja sama.
Yang
dimaksud dengan kooperatif disini adalah belajar atau bekerja sama (kelompok).
Hal ini dianggap penting untuk menjalin hubungan sosial antara siswa yang satu
dengan yang lainnya, juga hubungan guru dengan siswa.
Adapun keuntungan-keuntungan kooperatif antara lain:
a.
Hasil belajar lebih sempurna bila dibandingkan dengan belajar
individual.
b.
Pendapat yang dituangkan dalam kelompok lebih meyakinkan dibandingkan
pendapat individual.
c.
Dengan kerja sama yang dilakukan oleh siswa dapat mengikat tali
persatuan, tanggung jawab bersama, rasa memiliki, dan menghilangkan egoisme.
William
Burton membagi kelompok kerja sama tersebut antara lain:
a.
Kerja Kelompok, untuk memecahkan suatu problem, menganalisis masalah,
pembagian tugas, kegiatan penyelidikan, dan kesimpulan.
b.
Diskusi kelompok, diskusi ini tidak sama dengan debat tetapi selalu mengutamakan
pemecahan masalah.
c.
Untuk
mencapai hasil maksimal, lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif harus
diterapkan, lima unsur tersebut adalah:
·
Positive
interdependensi (saling ketergantungan positif).
·
Personal
responsibility (tanggung jawab perseorangan).
·
Face to face
promotive interaction (interaksi promotif).
·
Interpersonal
skill (komunikasi antar anggota).
·
Group
Processing (pemrosesan kelompok).
Pembelajaran
kooperatif merupakan proses atau metode yang tidak hanya mengutamakan
tercapainya kualitas siswa yang kognitif melainkan untuk mengembangkan
kemampuan lainnya seperti kesadaran siswa menyadari hakikat dirinya sendiri,
hakikat hubungannya dengan orang lain dan lingkungan.
7. Individualisme
Asas
individualitas pada hakikatnya bukan lawan dari kooperasi. Asas ini dilatarbelakangi
oleh perbedaan siswa baik dalam menerima, memahami, menghayati,
menganalisis dan kecepatan mereka menerima pelajaran yang disampaikan oleh
seorang guru. Di samping itu para siswa juga berbeda dalam bentuk fisik ataupun
mental , oleh karena itu dalam proses belajar mengajar guru menyesuaikan
kondisi siswa dengan materi yang diajarkan. Untuk menyesuaikan kondisi siswa
dapat dilakukan pengelompokan, misalkan saja menjadi tiga, kelompok A, B dan C.
Guru membuat pengelompokan siswa atas dasar kemampuan yang relatif sama,
menerapakan cara belajar tuntas, mengembangkan proses belajar mandiri.
Beberapa cara penggunaan sumber lingkungan:
·
Membawa
siswa keluar lingkungan kelas, misal karyawisata.
·
Membawa
sumber-sumber dari masyarakat ke dalam kelas, misal benda-benda, Resources
person.
·
Cara-cara
menyelesaikan pelajaran dengan kesanggupan individual:
·
Pengajaran
individual, siswa diberikan tugas menurut kemampuan masing-masing.
·
Tugas
tambahan, diberikan pada siswa yang lebih pandai disamping tugas yang bersifat
umum dengan demikian kondisi kelas dapat terpelihara.
·
Pengajaran
proyek, siswa mengerjakan sesuatu yang sesuai minat dan kesanggupan.
·
Pengelompokan
menurut kesanggupan, kelas dibagi beberapa kelompok dengan kesanggupan yang
sama.
8. Evaluasi
Yang dimaksud
evaluasi di sini adalah penilaian guru terhadap proses kegiatan
belajar-mengajar. Penilaian tersebut untuk mengetahui sejauh mana tujuan
pengajaran sudah tercapai, selain itu pula untuk mengetahui hambatan-hambatan
yang terjadi. Evaluasi tidak hanya dilaksanakan pada akhir semester saja tetapi
setiap jam juga bisa karena akan berguna untuk mengetahui kemajuan hasil
belajar. Pelaksanaan evaluasi berkenaan dengan dua aspek yaitu aspek guru dan
aspek belajar siswa.
BAB
III
KESIMPULAN
·
Belajar adalah suatu proses
perubahan perilaku yang muncul karena pengalaman.
·
Pembelajaran adalah suatu
sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi
serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi
dan mendukung terjadinya proses belajar siswa.
·
Prinsip menurut beberapa pendapat yaitu Sesuatu yang dipegang sebagai panutan yang utama
(Badudu&Zein, 2001:1089) ; Sesuatu
yang menjadi dasar dari pokok berpikir, berpijak dsb (Syah Djanilus, 1993) ; Sesuatu kebenaran yang kebenarannya sudah
terbukti dengan sendirinya (Dardiri, 1996).
·
(Walra, rochmat,
1999:24) : Belajar ialah Suatu aktifitas atau pengalaman yang menghasilkan
perubahan pengetahuan, perilaku dan pribadi yang bersifat permanen.
·
Moh. Surya (1997) :
“belajar diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk
memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari
pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.
·
Witherington (1952) :
“belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan
sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap,
kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”.
·
Gage & Berliner :
“belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang muncul karena pengalaman”.
·
Wingkel, 1987 :
“belajar adalah suatu aktifitas mental & psikis dalam berinteraksi dengan
lingkungan yang menghasilkan perubahan perilaku pada diri sendiri.”Belajar
adalah suatu proses/usaha sadar yang dilakukan olehindividu untuk menghasilkan
perubahan tingkah laku baik dalam aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap
dan nilai) maupun psikomotor (keterampilan) sebagai hasil
interaksinya dengan lingkungan untuk mencapai tujuan tertentu.
·
Menurut Gestalt : suatu transfer belajar antara pendidik dan
peserta didik sehingga mengalami perkembangan dari proses interaksi belajar
mengajar yang dilakukan secara terus menerus dan diharapkan peserta didik akan
mampu menghadapi permasalahan dengan sendirinya melalui teori-teori dan
pengalaman-pengalaman yang sudah diterimanya.
·
Prinsip Belajar Menurut Robert H Davies
: Suatu komunikasi terbuka antara pendidik dengan peserta didik sehingga
siswa termotivasi belajar yang bermanfaat bagi dirinya melalui contoh-contoh
dan kegiatan praktek yang diberikan pendidik lewat metode yang menyenangkan
siswa.
·
Berdasarkan Pendapat para
Ahli, disimpulkan bahwa Prinsip Belajar adalah
landasan berpikir, landasan berpijak, dan sumber motivasi agar Proses Belajar dan Pembelajaran dapat
berjalan dengan baik antara pendidik dengan peserta didik.
![]() |
DAFTAR
PUSTAKA
Dimyati, Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta, 2006.
Paulina, Panen, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta
: UT, 2003.


Merit Casino Login | Casino Review & Bonus
BalasHapusA secure and safe online casino that welcomes players with a secure, 1xbet safe, and enjoyable gaming experience. Register an account and enjoy Games offered: 제왕 카지노 Slots, Blackjack, Roulette, 메리트 카지노 BaNumber of games: 450+Withdrawals: Within 24 hours